Minggu, 11 Desember 2016

Indonesianisme Summit, Grand Sahid Jakarta, 10 Desember 2016 oleh Ikatan Alumni ITB Part 2


 "Memenangkan Industri Indonesia" 

Aksi Nyata dari Industri, Para Menteri dan Medco

Sesi kedua ini saya cukup puas karena Menteri Pariwisata Arief Yahya dan Panglima TNI diberikan waktu sampai presentasi selesai. Arief Yahya mengatakan bahwa sektor pariwisatalah yang memberikan devisa terbesar bagi negara. Apabila negara adalah sebuah korporasi brandingnya hanya tiga disebut sebagai TTI yaitu Tourism, Trade and Investment. 

Arief Yahya juga membandingkan logo mempunyai peranan penting untuk branding suatu negara. Dia memberikan contoh Inggris dengan benderanya dan slogan Great Britain, India dengan Made in India dan Indonesia? Tentu dengan Wonderful Indonesia.
Beliau menceritakan pengalamannya sewaktu menjadi Direktur Telkom dan alasannya mengubah logo berwarna Biru dan Kuning menjadi Merah dan Putih. Logo Telkom dirubah dikarenakan dua hal pertama karena Telkom adalah perusahaan Telekomunikasi paling Indonesia dan kedua jujur saja value anak perusahaan Telkomsel lebih tinggi dari perusahaan induknya. Telkomsel sendiri ia katakan memiliki value 6 Milyar dollar dibandingkan pesaingnya yang memiliki value kurang dari 1 Miyar dollar. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa customer akan memilih brand Telkomsel 6x lebih tinggi dibandingkan brand pesaingnya.

Sekali lagi membandingkan dengan sebuah korporasi Arief Yahya mengatakan layaknya sebuah korporasi negara harus memiliki core value. sebenarnya apa core value negara Indonesia? Yang menjadikan Indonesia lebih dibandingkan negara-negara lainnya dimata dunia. Kalau dilihat perkembangan ekonomi dari zaman kepresidenan pertama maka aktifitas ekonomi dapat dibagi menjadi 4 yaitu :

1. Agriculture, Farming & Fishing
2. Manufacture
3. Information Technology
4. Creative Industry


Kalau kita lihat nomer 2 jelas dikuasai oleh China, nomer 3 oleh USA, India dan China. Jelas Indonesia dapat memfokuskan diri pada yang nomer 4 Creative Industry lebih spesifiknya Cultural Industry dengan berbasikan pada human creativity.




oleh : Lingga Wardhana
Wasekjend KAFEGAMA-MM

Tidak ada komentar: